

SUKMAWATI Soekarnoputri tampak lebih kental sebagai anak ideologis Bung Karno. Partai yang didirikan dan dipimpin-nya diberi nama Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme, dideklarasi-kan 20 Mei 2002. PNI Marhaenisme, kata Sukmawati, merupakan kelanjutan dari PNI yang didirikan oleh ayahnya Bung Karno, Bapak Marhaenisme, Presiden RI pertama, Bapak Bangsa Indonesia, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, bersama kawan-kawannya pada 4 Juli 1927 jauh sebelum Indonesia merdeka.
PNI Marhaenisme menetapkan “Marhaenisme Ajaran Bung Karno” sebagai asas partai. Sejarah membuktikan PNI semenjak didirikan merupakan partai sejati, partai progresif revolusioner, anti kapitalisme, anti imperialisme, dan anti kolonialisme. Partai itu berjuang untuk kejayaan rakyat, bangsa, dan negara Republik Indonesia.
Selama 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa, dengan segala cara, telah terjadi de-Sukarnoisasi termasuk melumpuhkan Partai Nasional Indonesia. Untuk itulah Sukmawati hadir mengaktualkan kembali relevansi paham marhaenisme agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa baik dalam ucapan maupun perbuatan lewat pendirian partai PNI Marhaenisme.
Karena kedekatan konsep, visi, perjuangan, pemikiran, sesama nasionalis, pengagum Bung Karno, PNI Marhaenisme turut memajukan Siswono Yudo Husodo sebagai calon presiden.
Siswono dianggap layak dan ideal sebagai seorang nasionalis marhaenis yang punya pemikiran progresif, revolusioner, dan radikal untuk membangun negara sesuai cita-cita luhur pendiri bangsa.
PNI Marhaenisme, kata Sukmawati, merupakan kelanjutan dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh ayahnya Bung Karno, Bapak Marhaenisme, Presiden Republik Indonesia pertama,
Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951. Bersuamikan Muhammad Hilmy, dia dikaruniai tiga orang anak yang sudah beranjak dewasa. Sehari-hari Sukmawati bergelut sebagai politisi, artis, dan pengusaha swasta. Sebagai ketua umum partai dia aktif berpolitik. Sebagai artis dia antara lain menulis cerita film, menulis puisi, dan menulis atau menyadur buku-buku. Tahun 2003 dia sukses meluncurkan buku Sarinah saduran dari karangan ayahnya sendiri Bung Karno. Buku itu berisi pokok-pokok perjuangan perempuan Indonesia sepanjang perjalanan bangsa. Setiap diskusi, seminar, atau pertemuan yang membahas hak-hak politik dan budaya berikut peranan wanita Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, Sukmawati kerapkali mengintrodusir buku sadurannya itu. Sukmawati juga tercatat sebagai komisaris utama di sejumlah perusahaan swasta.
Putri bungsu Bung Karno ini menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) tahun 1964 di Perguruan Cikini, Jakarta, dan pendidian SMP tahun 1967 di tempat sama. Pendidikan SMA diselesaikan tahun 1969 di SMA Negeri 3 Teladan, Jakarta. Setahun kemudian, antara 1970 hingga 1974 Sukmawati memasuki Akademi Tari di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Masa mahasiswa di LPKJ dia manfaatkan belajar berpolitik di sebuah ormas mahasiswa ekstra universiter Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), tempat sama dimana Siswono Yudo Husodo dahulu berkiprah di tingkat Komisariat ITB Bandung. Belakangan, walau usia sudah berkepala lima sejak tahun 2003 lalu nama Sukmawati mulai tercatat sebagai mahasiswa Universitas Bung Karno, Jakarta, mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Sukmawati mulai meleburkan diri ke dunia politik praktis tatkala tampil sebagai Ketua Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Rakyat Marhaen (GRM), tahun 1991 hingga 1998. Bersamaan waktunya Sukmawati juga menjadi Ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) walau tak berkesempatan menjadi peserta pemilu.
Kedekatan sebagai sesama alumni GMNI dengan Siswono Yudo Husodo telah mendorong kedekatan politis antara PNI Marhaenisme pimpinan Sukmawati. Bersama partai PSI dan PPDI, PNI Marhaenisme final menetapkan nama Siswono sebagai calon presiden Pemilu 2004. Sugiono dan I Made Sunarkha, dua orang Ketua PNI Marhaenisme, menyebutkan, nama Siswono sudah positif menjadi calon presiden PNI Marahaenisme.
“Pak Sis cukup ideal, dia banyak pengalaman. Kami masih kommit Pak Sis sebagai leader. Karena dipandang dari berbagai sudut perjuangannya, dia adalah seorang leader nasionalis yang marhaenis,” kata Sugiono. PNI secara keseluruhan sangat, sangat mendukung Siswono. “Siswono, walau pernah dua kali menjadi menteri kabinet Orde Baru, dia tetap masih sebagai nasionalis progresif dan radikal.”
I Made Sunarkha melihat Siswono seorang yang ulet, pemikir, pejuang, mempunyai keinginan yang keras, dan berobsesi menjadi orang pertama di Indonesia dari kelompok independen. Kekerasan hati Siswono membangun bangsa tampak dari keinginannya mengunjungi seluruh Indonesia terlebih semenjak terpilih menjadi Ketua Umum HKTI. Dengan Siswono, Made Sunarkha menyebutkan, “Kami mempunyai konsep dan visi sama yang kuat sekali, yakni mempertahankan, menegakkan, dan mengisi Pancasila, UUD 45, dan Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI). Itu sudah final.” I Made Sunarkha menyebutkan orang-orang Siswono dan para pendukung terutama kaum nasionalis harus bersatu dan bekerja keras memajukan Siswono.**
